Selasa, 15 Oktober 2024

Butterfly Hug, Teknik Relaksasi Untuk Kesehatan Jiwa!


Cr. Pinterest

    Hi Buddies! kalian semua tentunya pernah merasakan cemas, stress, sedih atau emosi yang tidak stabil, kan? segala bentuk perasaan dan emosi yang kalian semua rasakan itu valid ya guys. Hendaknya, kita semua merangkul segala bentuk emosi baik itu emosi positif maupun negatif! 

  Pada artikel ini, aku akan mengajak kalian untuk mengenal teknik relaksasi, guna memberikan perasaan tenang kepada diri sendiri. Teknik relaksasi ini disebut, Butterfly hug!

    

    Butterfly Hug atau gerakan kupu-kupu adalah metode terapi yang digunakan untuk menjaga kestabilan emosi dan mememberikan perasaan tenang serta melatih Mindfulness. Butterfly hug diterapkan dengan memeluk diri sendiri guna memberikan perasaan tenang dan fokus pada emosi yang dirasakan sehingga dapat mengurangi stress dan cemas. Adapun beberapa fakta unik mengenai metode butterly hug, diantaranya: 

-  Butterfly hug pertama kali  dikenalkan oleh Lucina Artigas dan Ignacio Jarero saat menolong para korban yang selamat dari bencana alam di Meksiko tahun 1998.

-   Diterapkan di salah satu episode drama korea It’s Okay to Not Be Okay, ketika Kim Soo-hyun mencoba menenangkan Seo Yea-ji yang merasa marah, kesal bahkan ingin melukai orang lain.

-  Menurut Associate Psychologistdi Yayasan Pulih, Butterfly hug dapat meningkatkan kadar oksigen dalam darah serta merelaksasi tubuh. 

Manfaat Melakukan Butterfly Hug 

    Ada banyak sekali manfaat positif yang bisa kalian rasakan setelah melakukan teknik relaksasi ini, loh! 

1. Dapat meminimalisir perasaan cemas.

    Pelukan kepada diri sendiri memberikan perasaan aman dan tenang. Selipan afirmasi positif dalam metode butterfly hug juga terbukti mengurangi perasaan cemas berlebih. Bila kalian sedang dalam perasaan gugup atau cemas karena ingin mengerjakan suatu hal, cobalah praktikkan teknik butterfly hug terlebih dahulu!

2. Menimbulkan hormon endorfin (penghilang rasa stress) yang dapat merubah mood menjadi  lebih baik.

    Hormon endorfin berperan sebagai penghilang rasa sakit alami dan bertanggung jawab atas perasaan senang setelah melakukan aktivitas tertentu. Bahkan, hormon endorfin juga dapat memberikan energi positif dalam diri seseorang. Melalui praktik butterfly hug, tubuh dapat memproduksi hormon endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati. Melalui butterfly hug, kita dapat menghilangkan self low-esteem dan menimbulkan perasaan yakin buat mengaktualisasi diri sendiri dengan tujuan mencapai kematangan pribadi. 

 3. Meningkatkan perasaan yakin dan percaya terhadap diri.

    Melalui butterfly hug, kita dapat menghilangkan self low-esteem dan menimbulkan  perasaan yakin buat mengaktualisasi diri sendiri dengan tujuan mencapai kematangan pribadi.

4. Memulihkan trauma

    Teknik ini dapat menjadi alternatif metode terapi untuk menyembuhkan trauma atau  kenangan buruk di masa lalu. Metode ini secara konsisten dan perlahan akan memberikan perasaan nyaman dan tenang sehingga dapat melepaskan emosi negatif dan kecemasan yang ditimbulkan oleh trauma. 

 5. Melatih mindfulness (fokus pada perasaan dan emosi yang dirasakan saat ini)

    Mindfulness merupakan proses merasa sadar di masa sekarang dengan cara menjadikan  saling terhubung antara jiwa, hati dan pikiran. Tidak berpikir masa depan ataupun masa lalu. Melalui butterfly hug, kita dapat meraih ketenangan dengan fokus pada masa sekarang sehingga dapat meraih tingkat kebahagiaan tertentu.

Cara Melakukan Butterfly Hug

    Metode butterfly hug ini dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun ya guys! yang patut di garis bawahin adalah kalian memilih tempat yang nyaman dan kondusif! Langkah-langkah melakukan butterfly hug tergolong sangat mudah!  

1. Plih posisi yang nyaman. Posisi yang nyaman penting banget ya Buddies! Agar kalian dapat  fokus saat mempraktikkan teknik relaksasi ini.  

2. Silangkan kedua tangan di depan dada dengan posisi ujung jemari berada di pundak. 

3. Atur napas sembari menepuk pundak dengan perlahan  dan menutup mata. Tenangkan pikiran dan fokus pada pernafasan dan perasaan yang sedang dirasakan. Fokus pada rileksasi diri.  

4. Sambil melakukan gerakan ini, ucapkan afirmasi positif kepada diri sendiri seperti “Aku akan baik-baik saja” “Aku pasti bisa” “Terima kasih sudah berjuang” 

        
    Nah, jadi gimana nih Buddies, perasaan kalian setelah melakukan butterfly hug? Aku harap kalian menjadi lebih tenang yaaa! Kalian bisa lebih menghargai diri sendiri melalui afirmasi positif yang kalian utarakan saat melakukan teknik relaksasi ini. Butterfly hug ini adalah salah satu alternatif teknik relaksasi yang biasanya diterapkan untuk memberikan ketenangan batiniah, melatih mindfulness, mengurangi stress dan perasaan cemas. Selain banyak manfaat positif yang ditawarkan, butterfly hug juga memiliki kemudahan dan fleksibilitas dalam penerapannnya. Hanya membutuhkan tempat yang kondusif, posisi yang nyaman kalian sudah bisa melakukan gerakan kupu-kupu untuk menenangkan diri. 

Note for ourselves💌

    Let's appreciate every step you take. You're stronger and greater than you think! Remember, you're not in a race with anyone, so it's perfectly fine to take your own path to reach what you're searching for. - writer's thoughts 🌼

 

Refrensi: 

  -     Mengenal Teknik Butterfly Hug yang Baik untuk Membuat Emosi Stabil (HaloDoc, 2024) https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-teknik-butterfly-hug-yang-baik-untuk-membuat-emosi-stabil

-  Mengenal Metode Butterfly Hug yang Ampuh Menjaga Kestabilan Emosi (Satu Persen, 2022) https://satupersen.net/blog/metode-butterfly-hug


 

 



Rabu, 28 Agustus 2024

Journal Review About ‘Mental Health Stigma and Health-Seeking Behaviors Amongst Pregnant Women in Vietnam: A Mix Method Realist Study'


        We all know that woman in their pregnancy period will feel very emotionally unstable. They are hard to control their emotions because of the increased levels of the hormones progesterone and estrogen during pregnancy. This condition can cause mental health issues. Unfortunately, Mental health issue in Vietnam carries a high level of stigma and taboo. The paper I reviewed revealed how mental health‐related stigma influences pregnant women’s decisions not to disclose their conditions or to seek treatment in Vietnam. Moreover, this paper responds to the call for evidence on health system barriers to achieving health equity in underserved populations such as young women from low- and middle-income countries. Ultimately, this will enhance health systems' responsiveness to maternal mental health needs in Vietnam and other similar low-and middle-income countries. Approximately 15% of women in low-and middle-income countries experience common perinatal mental disorders (CPMDs) antenatally and 20% postnatally. CPMDs include depression, anxiety, and psychosis during pregnancy or in the first year of postpartum. Risk factors include a history of illness, significant life stressors, poor marital relationships, and poor social support. Many losses will occur amongst CPMDs not just in various aspects of the mother’s life but also to the obstetrics outcomes, such as preterm birth and low birth weight, preterm delivery, and economic outcomes, and have long-lasting consequences on the child’s brain development and birth weight, impairing growth and increasing infection susceptibility. 

    This examination reports the research by using Realist Evaluation which is a theory-driven methodological approach that focuses on understanding what works, how it works, under what conditions, and for whom it works. It analyses causal pathways through the context-mechanism-outcome configurations (CMOs). The data in this paper was collected by qualitative and quantitative methods. These two types of data-collecting methods are effective for presenting the results of the research. For the quantitative part, this analysis recruited all pregnant women who were above 12 weeks gestation. The pregnant woman was given a self-administrated questionnaire comprising basic demographic information and four items assessing attitudes towards mental health illness. The aim is to understand their views on maternal mental health and the resulting health-seeking behaviors. The qualitative data collection included face-to-face in-depth interviews, and focus-group discussions With pregnant women and community health workers to focus on understanding their views on mental health issues, their experiences, and the healthcare seeking by pregnant women. This examination revealed that nearly half of pregnant women (43.5%) would try to hide their mental health issues and 38.3% avoid having help from a mental health professional, highlighting the substantial extent of stigma affecting health-seeking and accessing care. The primary reason why pregnant women hide their mental illness is fear and scared of the stigmatizing language that contributes to the concealment of mental illness. 

    Based on this insightful paper, I can conclude that addressing mental health-related stigma could influence the decision of disclosure and health-seeking behaviors, which could in turn improve the responsiveness of the local health system to the needs of pregnant women with mental health needs, by offering prompt attention, a wide range of choices, and improved communication. Potential interventions to decrease stigma and improve access to mental healthcare for pregnant women in Vietnam should target structural and organizational levels and may include improvements in screening and referrals for perinatal mental care screening, thus preventing complications.            

Journal reviewed by Triana Putri

Rabu, 21 Agustus 2024

Meningkatkan Jangkauan Produk Melalui Pelatihan Pengelolaan Website & Media Sosial

 


       Dewasa ini, website dan media sosial menjadi hal yang esensial dalam branding suatu produk. Pengusaha yang memiliki Social Media Specialist Skill, merupakan nilai unggul guna meningkatkan jangkauan produk terhadap masyarakat sehingga dapat memaksimalkan keuntungan. Tidak hanya untuk branding, namun juga menjadi pengusaha yang memanfaatkan kecanggihan teknologi akan lebih mudah untuk bersaing di era digitalisasi.  Diperlukan skill yang mumpuni agar khalayak tertarik untuk menaruh pandang pada produk yang dimiliki melalui pemasaran digital dengan pemanfaatan media yang baik dan benar. 

    Pelatihan khusus kepada para pengusaha mengenai pengelolaan media sosial dan website yang benar, merupakan langkah awal dalam mempertahankan produk dari persaingan global.  Jenis pelatihan pengelolaan webiste & media sosial pun memiliki manfaat untuk meningkatkan kreativitas para pengusaha dari segala kalangan agar mendapat Income yang lebih besar. Contoh dari media sosial yang dapat dimanfaatkan adalah Instagram, TikTok, Facebook, X, WhatsApp, Line, Youtube, dan lain sebagainya. Di zaman yang telah terpapar kecanggihan teknologi ini, pembuatan website pun tidak harus mendatangkan Website Developer atau Programmer karena website dapat dibuat melalui berbagai macam website builder yang tersedia, seperti Blogger.com, Wix.com, Canva, Typeform.com, Medium.com, dan masih banyak lagi. 

            Langkah efektif dalam yang dapat diberikan pada pelatihan pengelolaan media sosial dan website kepada pengusaha adalah Increasing Engagement Rate, yakni berorientasi pada peningkatan jangkauan produk terhadap viewers. Cara yang dapat dilakukan, diantaranya 

-       Membuat media promosi yang menarik serta pemilihan narasi yang persuasif dalam memasarkan produk-----copywriting skill----

-       Tingkatkan interaksi oleh pengusaha terhadap viewers. Pada kiat ini, pelatihan yang diberikan dapat berupa cara merespon komentar pembeli dengan gaya bahasa yang menyesuaikan zaman.  

-       Posting media promosi secara rutin

-       Adakan Giveaway sesekali untuk menambah jangkauan khlayak terhadap produk yang dimiliki

-       Optimalkan UX Writing untuk memberikan pesan yang kontekstual dan efektif

            Pelatihan yang diberikan kepada pengusaha akan memuat poin-poin diatas untuk meningkatkan tingkat jangkauan masyarakat terhadap produk yang dimiliki sehingga produk dapat lebih dikenal dan mendapat hasil yang maksimal. 

Butterfly Hug, Teknik Relaksasi Untuk Kesehatan Jiwa!

Cr. Pinterest      Hi Buddies! kalian semua tentunya pernah merasakan cemas, stress, sedih atau emosi yang tidak stabil, kan? segala bentuk ...